Minggu, 09 Oktober 2011

Diantara Duri - Duri Malam

karena kita, yang tak pernah mengeja jarak mili demi mili
karena aku, yang selalu menunggumu meski tabung Tuhan telah kehabisan bulir pasirnya
karena engkau, yang selalu meninggalkan jejakmu di hatiku setelah pelukan penutup bercinta

dan malam, yang tak alpa menancapkan duri kerinduan di tiap serat jantungku
menusuk tajam dengan angin bisikan rayunya
lalu aku yang terlena, hanyut dalam angan dan keinginan yang membuncah
lalu kita yang tersiksa, entah kenapa hidup seakan begitu senang menarik ulur kisah kita

ini aku, sang penunggu waktu di dekapmu

Sabtu, 06 Agustus 2011

my newest short story: "Merah". enjoy!! ;)


‘MERAH’ oleh: Daniie Ume

            Cat dan kuas-kuas berserakan di sudut ruangan. Dengan penuh konsentrasi, seorang pria menggoreskan warna warna ke atas kanvas yang berada di hadapannya. Cat meluber dari palet hingga ke tangannya, jari-jarinya, hingga ke wajahnya. Raut wajahnya tenang seperti tanpa emosi. Sudut matanya tak bergerak dari satu bidang. Keringat perlahan menetes dari dahi hingga ke ujung dagunya. Rambutnya panjang tak terawat. Tangannya tak berhenti bergerak. Ia terus saja mengerjakan lukisannya dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin ada satupun kesalahan pada hasil karyanya nanti.
            Jam berdetak tanpa terasa. Emosi terpancar dari sela-sela udara sekitarnya. Bibirnya tertutup rapat. Pandangan matanya kosong. Perlahan pikirannya pergi menuju ke suatu waktu. Ke suatu titik di masa lalunya.
            “ Sayang, aku ingin berbicara padamu. Bisakah kita bertemu? ”
            Suara seorang perempuan menggema di kepalanya. Suara wanita yang pernah sangat dicintainya. Cecillia, ingatannya kembali ke saat itu. Hari dimana wanita itu mengajaknya bertemu di café favorit mereka berdua. Ia dengan senang hati menerima ajakannya karena memang kerinduan telah bertumpuk di hatinya. Mereka telah tiga bulan tak bertemu karena kekasihnya itu sedang mengikuti  pameran busana di Paris. Seorang pelukis dan seorang perancang. Mereka berdua bertemu di sebuah toko alat lukis di sudut kota. Intensitas pertemuan mereka disana membuat mereka berdua jatuh hati dan menjalin hubungan cinta hingga tiga tahun lamanya.
            Ia datang dengan kemeja yang rapih dan seikat bunga ditangannya. Senyum mengembang di wajahnya. Tak sabar ia ingin memeluk wanitanya yang sedang duduk di salah satu sisi café.
            “ Hai sayang. Apa kabar? “ sapanya pada Cecilia. Dipeluknya tubuh wanita itu. Di lampiaskannya segala kerinduan yang telah bersarang di hatinya. Namun, tak ada balasan pelukan kali ini. Cecilia lalu melepaskan pelukan kekasihnya dengan pelan dan duduk kembali.
            “ Baik “ jawabnya. Bibir wanita itu lalu diam tak bergerak. Dipandangnya Cecilia, dan Cecilia pun hanya mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Ia merasakan ada yang ganjil kali ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengan wanitanya itu. Tak ada suara menggoda. Tak ada tawa genit seperti biasanya. Lebar meja yang memisahkan mereka terasa seperti lautan yang memisahkan dua benua. Jauh dan dingin. Terasa bisu. Pelayan yang datang meletakkan pesanan mereka tak mengganggu pandangan sang pelukis pada Cecilia. Matanya terus memandang, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jauh ke dalam mata Cecilia.
            “ Ada apa sayang? Apa yang ingin kau katakan? Kau tau? Aku sangat merindukanmu ” ucap sang pria.
            Mata sang wanita tetap berpaling. Dia hanya meneguk minuman melalui pinggir gelas. Cetakan lipstik membentuk bibirnya dipermukaan kaca. Dia seperti sedang mencari sesuatu dari dalam tenggorokannya. Sesuatu yang sangat ingin diucapkannya.
            “ Aku hamil “ ucap Cecilia.
Sang pria tersentak. Matanya terbelalak. Dia tak percaya dengan apa yang diucapkan wanitanya itu. Dia sangat yakin bahwa mereka belum pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya. Dia tak pernah melakukan itu karena dia sangat menyayangi wanitanya. Sekarang kekasihnya mengatakan bahwa dia sedang mengandung. Itu berarti sesuatu. Sebuah pengkhianatan telah terjadi dibelakangnya rupanya.
“ Dan kau tau itu bukan anakmu. Aku bertemu dengannya ketika pertama kali ketika aku tiba di Paris. Kami mabuk dan jatuh cinta. “
Kata-kata dari bibir Cecilia itu seakan mengiris tiap serat yang ada di jantung nya. Tertohok, jiwanya mati langkah. Matanya panas. Perlahan air mata mulai merembes keluar dari sudut matanya. Tangannya menggenggam erat kaki gelas. Marah, sedih, kecewa, segalanya bercampur aduk di dalam hatinya. Pertanyaan-pertanyaan mulai menggerayangi relung kalbunya. Jadi apa yang dia yakini selama ini? Siapa yang dia banggakan selama ini? Yang dia puja dan cinta? Segampang itukah cinta terkhianati?  Jadi untuk apa pengorbanannya selama ini? Kepada siapa rindunya berlabuh? Siapa yang dia nanti tiap malam dan senja selama ini? Entahlah.
Suasana menjadi sangat kaku. Tak ada lagi suara terdengar dari mulut mereka berdua. Sang pelukis diam seribu bahasa, begitupun juga dengan Cecilia. Sejuta rasa berkecamuk dalam pikirannya. Hatinya kini begitu pedih. Tercambuk keadaan yang harus ia terima. Lalu wanitanya pergi, berlalu begitu saja. Meninggalkannya dengan kesedihan dan keputus asaannya sekarang. Di atas meja, sebuah amplop bertuliskan nama Cecilia dan seorang laki-laki pada sampulnya tergeletak. Sebuah undangan.
Cat merah dan kuning kini ia satukan. Ia sapukan perlahan namun tegas diatas kanvas. Warna-warna indah mulai membentuk suatu bentuk disana. Tangannya tak berhenti bekerja sejak sejam yang lalu. Nafasnya berhembus dengan cepat, secepat amarahnya. Emosi terus meracuni pikirannya. Dendam, mungkin bukanlah kata yang tepat untuknya. Karena sebetapa sakitnya ia karena Cecilia, tak sedikitpun ia berniat membalasnya. Ia hanya sedang memarahi dirinya sendiri. Menyalahi dirinya yang tak bisa menjaga kekasihnya dengn baik dan benar. Menyalahi dirinya yang tak mampu berubah lebih baik hingga kekasihnya tak kan berpaling pada orang lain hanya dalam waktu yang sangat singkat. Menyalahi dirinya yang kurang memberikan perhatian pada bekas wanitanya itu ketika mereka terpisahkan jarak. Ia hanya sedang menyalahi semua yang ada pada dirinya.
            Jam terus berdetak yang sedari tadi mengawasi tiap gerakan sang pelukis. Suasana ruangan mulai memanas. Keringat makin mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Dari luar ruangan, tiba-tiba terjadi keributan. Orang-orang dalam rumah mulai gaduh dalam kepanikan. Sesuatu sedang terjadi disana. Tetapi sang pelukis tetap fokus pada karyanya. Ia sama sekali tak menggrubis suara-suara yang sedang bersahutan dari luar ruangan yang terkunci rapat itu. Ia sedang tenggelam pada perasaannya. Ia sedang melampiaskan amarahnya pada sebuah bidang, melalui sebuah kuas dan berbagai macam warna. Ia tetap saja melukis.
Langit mulai memamerkan jingganya. Keributan makin menjadi-jadi. Salah seorang anggota keluarga tak sengaja membakar kain penutup jendela pada salah satu ruangan. Seisi rumah kelabakan mencari air. Api mulai tak terkendali, membakar liar satu persatu ruangan yang ada. Di dalam ruangannya, sang pelukis masih saja melukis dengan indahnya. Air mata dan keringat mulai memenuhi wajahnya, tak terbedakan. Satu persatu anggota keluarga mulai menyelamatkan diri masing-masing. Api semakin memakan habis rumah. Asap mengepul ke suluruh arah. Lukisan sang pelukis pun ikut makin menyala-nyala.
Kini api telah mulai membakar sudut ruangan. Cat dan tiner makin membuat api semakin besar. Sang maestro tetap diam, tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia malah tersenyum puas. Lukisannya hampir jadi. Ia tertawa dalam kepungan api yang mulai membakar dirinya itu. Ia sedang menertawakan dunia. Menertawakan kebodohan dirinya yang telah membiarkan suatu kesalahan besar terjadi pada hidupnya. Api dan sang maestro yang sedang membuat sebuah mahakarya, sebuah pemandangan yang sangat indah dan megah ditengah kekejaman. Kini lukisannya sudah sepenuhnya selesai. Dan api juga telah membakar seluruh sisi rumah dan sudut. Orang-orang di luar hanya menatap kosong rumah dan sang maestro. Isak tangis dan jeritan mereka yang memanggil nama sang pelukis terdengar berulang kali. Tenggelam oleh riuhnya pemadam kebakaran dan kegaduhan warga sekitar. Tak ada satupun yang akan selamat dari sana. Semua orang tahu itu, bahkan gagak-gagak yang terbang di atas kebakaran pun tahu akan hal itu. Langit kini semakin merah dan kelam.

***

            Malam telah menyelimuti dengan dinginnya. Hanya bulan yang tetap setia menerangi dengan sinarnya. Di satu sisi kota, tampak puing-puing rumah yang telah habis terbakar. Anjing melolong sejadi-jadinya memecah keheningan malam. Tak ada lagi yang bisa diambil dari reruntuhan rumah itu. Yang tersisa hanyalah kayu-kayu dan dinding-dinding yang menghitam. Namun, di salah satu sudut bekas reruntuhan, sesuatu tertinggal disana. Sesuatu yang sangat indah dan menarik perhatian para penghuni malam itu. Sebuah lukisan. Lukisan terakhir dari sang maestro yang telah tiada kini. Isi hatinya tergambar jelas disana. Hingga akhirnya lukisan itu ditemukan dan diambil lalu disimpan oleh orang-orang yang memang mencintai karya-karya seni macam itu. Meski berat sebenarnya sang keluarga untuk memberikannya karena itu adalah hal terakhir yang tersisa tentang kenangan pria malang itu, namun karena kebutuhan mereka pun menjual mahakarya itu dengan sangat tinggi pada seseorang. Kenangan terakhir tentang sang pelukis.
            Di salah satu sudut pameran, lukisan itu telah terbingkai dengan rapi. Lukisan yang menggambarkan pohon hati dan dahan-dahannya yang menyerupai serat dan urat jantung lalu sedang terbakar itu kini terpajang di salah satu dindingnya. Setiap orang berdecak kagum memandangnya. Sayup, terdengar suaran jeritan manusia dari piguranya. Itu adalah suara maestro yang kecewa akan hidupnya. Suara tangisan yang dipendamnya selama ini. Kini, terkubur dan tersimpan pada lukisannya yang terakhir. Dan ia sedang mencari kebahagiaannya di luar sana. Di tempat yang lebih pantas untuknya. Di alam dan udara yang berbeda.  
(just made it for project antology fiksiminiers Palembang)

Sabtu, 02 Juli 2011

Hanya

mungkin aku mulai lelah dengan permainan ini. Maju dengan berat karena sudah tidak ada jalan mundur. Ingin rasanya keluar dan berhenti bermain tapi tajamnya benda itu selalu seakan menertawakanku ketika aku menggenggamnya. Aku lelah, dunia seakan tak berpihak padaku kali ini. Kumohon jangan bertanya ada apa padaku, setidaknya biarkan saja aku menitikkan secuil air mata hanya untuk melepas penat. Aku kalah kasih, tapi aku terlalu malu untuk berucap. Dan aku juga masih belum rela pergi darimu. Aku dan ketanpaanku.

Minggu, 19 Juni 2011

Cinta Pertama

mungkin bukan rasa suka yang pertama,

sudah sering kurasakan rasa rasa suka sebelumnya tapi ini mungkin adalah rasa cinta yang pertama kali kurasakan. dia datang, bagai memberikan sayap baru untukku ditengah tengah kelelahanku mendaki bukit kehidupan baru yang kujalani. tempat dimana aku bisa tertawa dan menangis dengan lepas menghilangkan sedikit beban yang perlahan lahan mulai menggerogoti badan dan fikiran. akhirnya disatu titik, tidak dalam waktu yang lama dari pertemuan kami untuk yang pertama kalinya, kami menyadari adanya cinta. problema problema hidup yang sama-sama sedang kami perjuangkan membuat perasaan itu diam-diam mengakar lebih dalam ke serat-serat hati. satu harapan, dan satu tujuan. kuharap bisa melalui bersama dengannya. karena cinta sejati tak perlu alasan bukan? ( My D )

Lagu yang lagi suka kudenger

Sinéad - lyrics


've gotta try
It's not over yet
No signals of love
Have you left
My heart is bleeding just for you
Bleeds for only you

And it hurts to know the truth

Are you looking for saviours
Chasing a dream
Love turned to hate

Now I'm crossing the border
See then I fade
But I'm not afraid

Oh Sinéad,
For the first time
Life is gonna turn around
I'm telling you
You will like it, I know

Oh Sinéad,
It's the first time
Only you can set it free
Oh Sinéad
Come break away with me

This second chance I know won't last
But it's OK
Got not regrets
And I, I feel the end here
I'm a fool
Getting closer

But I'm doing what I should
I been drowning in sorrow
Chasing tomorrow,
Running away

Now you're crossing the border
See no tomorrow
But you're not afraid

Oh Sinéad,
For the first time
Life is gonna turn around
I'm telling you
You will like it, I know

Oh Sinéad,
It's the first time
Only you can set it free
Oh Sinéad
Come break away with me

But I'm doing what I should
I've been drowning in sorrow
Chasing tomorrow,
Running away

Now you're crossing the border
See no tomorrow
But you're not afraid

Oh Sinéad,
For the first time
Life is gonna turn around
I'm telling you
You will like it

Oh Sinéad,
For the first time
Life is gonna turn around
I'm telling you
You will like it, I know

Oh Sinéad,
It's the first time
Only you can set it free
Oh Sinéad
Come break away with me.