karena kita, yang tak pernah mengeja jarak mili demi mili
karena aku, yang selalu menunggumu meski tabung Tuhan telah kehabisan bulir pasirnya
karena engkau, yang selalu meninggalkan jejakmu di hatiku setelah pelukan penutup bercinta
dan malam, yang tak alpa menancapkan duri kerinduan di tiap serat jantungku
menusuk tajam dengan angin bisikan rayunya
lalu aku yang terlena, hanyut dalam angan dan keinginan yang membuncah
lalu kita yang tersiksa, entah kenapa hidup seakan begitu senang menarik ulur kisah kita
ini aku, sang penunggu waktu di dekapmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar